Selasa, 23 September 2014

Puisi 
                           Dibalik Cahaya Cinta
                          Oleh : Risal Abdul Karim

                            Ketua umum GEKMAR (Generasi Kulaba Marimoi)


Aku senang kepadamu
Aku percaya kepadamu
Aku belajar dan bangga dari apa yang engkau
Tahu...oh idamanku.

Bunga-bunga ditaman disulapkan
Matahari diterangkan
Bagaikan lampu pijar berwarna-warni
Oh .....indahnya.

Dunia terasa gelap tanpa cahayamu
Aku binggung tuk melangka
Aku buta tanpa tuntunanmu
Aku.....menangis dikala paskamu

Aku merindukan kehadiranmu
Dimanakah engkau terjatuh
Oh pedang cintaku, yang selalu ku asa

Dikala malam engkau ku asa
Dikala siang engkau ku asa
Dikala sore engkau mulai merasa getaran-getaran
Cinta yang sudah tak terasa

Aku dan dirimu satu...!












Foto sang penulis puisi.
DARI SABUA HINGGA BETON 
 
(CERITA PERJALANAN HIDUPKU)

Masa kecil aku habiskan di sebuah desa Kulaba (sekarang berstatus kelurahan). ayah ku bernama Lukman Robo, dan Ibu ku bernama Nuraen Hadadi. selama 8 tahun aku dan keluargaku hidup terpisah dari pemukiman warga pada umumnya, kami tinggal di sebuah dusun bisa dikatakan seperti itu orang-orang setempat mengatakan dusun itu dengan sebutan Kusu, atau dalam bahasa Indonesianya adalah Alang - alang karena pada waktu itu daerah sekita kami tinggal banyak sekali alang-alang yang tumbuh. Ayaku seorang tuna daksa dan juga sumbing bibirnya. Kami tinggal kusu di dengan rumah yang biasa di sebut dengan sabua (rumah yang terbuat dari papan atau pun bambu yang dicincang) dengan konstruksinya dari kayu namun seperti rumah bertingkat namun lantainya bukan di tanah tetapi agak tinggi dari permukaan tanah. 
Aku mempunyai lima bersaudara namun ketika kami masih tinggal di sabua itu kami hanya tiga bersaudara, umur kami terpaut 2 tahun.  ayah ku bekerja sebagai seorang tukang batu dan ibuku seorang petani. 

Rumah sabua yang kami tempati dari tahun 1995 - 2003, kami mendirikan rumah beton di tengah-tengah pemukiman warga masyarakat kulaba. Pada tahun 11 Juli 2003 kami resmi menempati rumah beton kami di RT 02 RW. 01 hingga sekarang walaupun belum permanen sepenuhnya.